DRD Berikan Solusi Baru
Anies berharap para anggota DRD bisa memberikan inovasi dan terobosan bagi Pemprov DKI. Hal itu agar warga DKI bisa merasakan hasil tugas anggota DRD
Image is not available
previous arrow
next arrow
Slider

Jakarta, 14 Desember 2020 - Dalam mengkampanyekan Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Provinsi DKI Jakarta yang berlangsung dari 25 November hinggha 10 Desember 2020, pada 5 Desember Dinas PPAPP Provinsi DKI Jakarta bekerja dengan PPM Unika Atma Jaya telah mengadakan Webinar dengan tema “Stop Kekerasan Dalam Pacaran di Kalangan Milenial”.

Catatan Tahunan Komnas Perempuan (2020) mencatat sepanjang tahun 2019 telah terjadi 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan baik di ranah privat/personal, ranah publik/komunitas maupun ranah negara. Dari ketiga ranah ini, kasus terbanyak terjadi pada ranah privat /personal (75%). Hasil survei Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) bekerjasama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016 menunjukkan bahwa sebanyak 33,4% perempuan usia 15-64 tahun telah mengalami kekerasan fisik dan/atau kekerasan seksual selama hidupnya, dengan jumlah kekerasan fisik sebanyak 18,1% dan kekerasan seksual 24,2%. Hal ini membuktikan bahwa masih banyak perempuan yang belum menikah menjadi korban kekerasan, dimana pelaku bisa saja datang dari orang terdekat seperti pacar, teman, rekan kerja, tetangga, dsb. Simfoni PPA Tahun 2016 menyebutkan bahwa dari 10.847 pelaku kekerasan sebanyak 2.090 pelaku kekerasan adalah pacar/teman. Fakta-fakta inilah yang mendorong Dinas PPAPP Provinsi DKI Jakarta dan PPM Unika Atma Jaya mengangkat isu kekerasan dalam hubungan yang belum terikat pernikahan sebagai tema webinar.

Webinar ini dibuka dengan kata sambutan dari Ibu Ir. Tuty Kusumawati, M.M., Kepala Dinas PPAPP Provinsi DKI. Ibu Tuty mengungkapkan bahwa webinar “Stop Kekerasan dalam Pacaran” ini merupakan satu dari serangkaian kegiatan yang dilaksanakan Pemrov DKI dalam merealisasikan Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak yang berlangsung dari 25 November sampai 10 Desember 2020. Ibu Tuty menerangkan bahwa rangkaian kegiatan kampanye ini merupakan hasil kolaborasi dengan berbagai pihak terkait, Unika Atma Jaya, Jakarta adalah salah satunya. Dalam kesempatan ini, Ibu Tuty menjelaskan bahwa penyebab kekerasan terhadap perempuan dan anak tidaklah tunggal, tetapi banyak faktor. Oleh karena itu, ia mengajak kita semua untuk mengenali potensi-potensi terjadinya kekerasan dan menjadi agen perubahan di lingkungan kita masing-masing untuk melakukan advokasi agar dapat mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Kata sambutan juga diberikan oleh Ketua LPPM Unika Atma Jaya, Ibu Dr. jur. Sih Yuliana Wahyungningtyas, S.H., M.Hum. Ibu Yuliana menegaskan bahwa kekerasan di masa pacaran merupakan wilayah abu-abu. Oleh karena itu, beliau mengajak kita semua untuk mengidentifikasi potensi-potensi kekerasan di wilayah abu-abu tersebut, dan meyakinkan korban kekerasan bahwa mereka tidaklah sendirian, tetapi ada orang lain yang peduli untuk membantunya keluar dari situsi yang mengkungkungnya.

Selesai kata sambutan, Ibu Dr. Ir. Susy Y.R. Sanie, M.Si dosen Prodi Akuntansi FEB Unika Atma Jaya Jakarta, yang juga merupakan anggota senior Dewan Riset Daerah (DRD) DKI Jakarta, memandu  pemaparan materi oleh narasumber.  Bapak Drs. Syarief Darmoyo, M.Si dosen Prodi Manajemen FEB Unika Atma Jaya Jakarta,  tampil sebagai pembicara pertama yang menjelaskan apa itu kekerasan dalam pacaran, berbagai bentuk-bentuknya, antara lain seperti: kekerasan fisik, kekerasan psikologis, kekerasan verbal, kekerasan ekonomi, pembatasa aktifitas social, dll. Beliau juga memaparkan fakta-fakta yang terjadi. Selain itu, beliau juga menjelaskan kekerasan digital yang dapat terjadi dalam hubungan pacaran jarak jauh (LDR) melalui dunia maya, siklus kekerasan, serta mitos-mitos dalam hubungan pacaran yang seringkali menjadi pemicu dan alasan pembenaran yang salah terhadap timbulnya kekerasan.

Ibu Dr. Ir. Susy Y.R. Sanie, M.Si anggota senior DRD DKI Jakarta kemudian mengajak peserta webinar menyaksikan tayangan 2 film untuk memperoleh gambaran konkrit tentang hal-hal yang telah disampakan oleh Bapak  Drs. Syarief Darmoyo, M.Si. yaitu film “Cinta” dan “I Think I Have A Crush On You”. Ibu Susy memaparkan bahwa film “Cinta” yang merupakan produksi dari Studio Teknologi Pendidikan Perpustakaan Pusat Unika Atma Jaya mengangkat kisah nyata dari korban kekerasan dalam pacaran dan menggambarkan bagaimana bentuk-bentuk kekerasan dalam berpacaran itu terjadi. Demikian juga film “I Think I Have A Crush On You” yang diangkat dari kisah nyata korban kekerasan yang terjadi di dunia digital. Film ini diperoleh dari public source (https://www.Youtube.com/watch?v=lRQlMriBqiQ). Ibu Susy juga meminta peserta untuk mengekspresikan perasaan masing-masing setelah menyaksikan tayangan film tersebut, sehingga selanjutnya menentukan sikap dan mau bertindak agar tidak ada yang menjadi korban maupun pelaku kekerasan.

Setelah penayangan film, peserta diberikan Tips dan Upaya Pencegahan Kekerasan dalam Pacaran oleh Ibu M. Tri Warmiyati D.W., S.S., M.Si., sosiolog aktivis gender yang merupakan Dosen Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya Jakarta. Dalam pemaparannya, Ibu Tri menyampaikan perlunya mengenali tanda-tanda kekerasan dalam pacaran, sehingga bisa mengantisipasi dan melakukan upaya pencegahan kekerasan dalam pacaran.  Beliau juga menerangkan cara penanganan bila terjadi kekerasan dalam pacaran, dan tips relasi sehat dalam pacaran.

Selesai pemaparan materi, acara webinar dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Meski banyak pertanyaan yang dilontarkan peserta via chat & kanal Q&A, namun nara sumber hanya memilih beberapa pertanyaan saja yang dianggap menarik dan paling relevan. Diantaranya dari mahasiswa sebuah universitas di Jakarta yang menanyakan bagaimana ia dapat mempertahankan hubungan yang sudah 3 tahun dengan pacar nya yang masih sering ditaksir oleh pria lain tanpa melakukan bentuk-bentuk kekerasan seperti yang telah dipaparkan.  Pertanyaan lain datang dari seorang ibu yang bertanya bagaimana caranya agar anak-anak remaja yang biasanya tertutup, mau bercerita pada orangtua supaya orangtua bisa mengantisipasi agar anak terhindar dari kekerasan dalam berpacaran.  Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab dalam bentuk diskusi yang menarik dan menyenangkan oleh ketiga pembicara.

Pertanyaan lain datang dari kader RPTRA yang bertanya dimana tempat pelayanan untuk menangani pelaku dan korban kekerasan dalam berpacaran yang mengalami gangguan jiwa.  Ibu Susy mewakili seluruh tim pembicara menyempatkan untuk memberi apresiasi kepada para kader RPTRA dan kader PKK umumnya yang peduli dan mau bekerja tanpa pamrih untuk kepentingan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.  Kader PKK merupakan partner lapangan Unika Atma Jaya dalam berbagai kegiatan pengabdian masyarakat. Lalu untuk menjawab pertanyaan, tim pembicara menyarankan beberapa tempat yang diketahui menangani masalah layanan termasuk pada korban maupun pelaku kekerasan, namun direkomendasikan untuk langsung ke layanan yang disediakan oleh Dinas PPAPP DKI Jakarta melalui UPT P2TP2A sebagai “pintu masuk”, yang kemudian akan dirujuk ke pusat layanan lain sesuai kebutuhan korban ataupun pelaku.  Sebelum ditutup, webinar ini diakhiri dengan pemaparan dari P2TP2A DKI Jakarta yang memperkenalkan apa dan bagaimana P2TP2A itu kepada para peserta, serta bagaimana mengakses layanannya

Webinar ini selain diikuti peserta melalui aplikasi Zoom, juga dapat diikuti secara langsung (live) melalui Youtube (youtube.com/watch?v=C84EH8oqqrc) dan Instagram milik DPPAPP DKI Jakarta dan Unika Atma Jaya Jakarta.  Menurut laporan DPPAPP DKI Jakarta  jumlah peserta dan penonton acara ini mencapai 44.814 orang, dan menyumbang pada Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak  dalam memperoleh rekor MURI sebagai rangkaian webinar yang terbanyak disaksikan, yaitu total mencapai sejumlah 782.556 orang.

Narahubung: Yunti Wibowo (This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.)


 

JAKARTA - Anggota Dewan Riset Daerah DKI Jakarta , Faransyah Agung Jaya meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melindungi pedagang UMKM di Rasuna Garden. Apalagi belum ada solusi terkait para pedagang yang terancam tergusur.

Anggota Dewan Riset Daerah DKI Jakarta yang diangkat melalui Keputusan Gubernur Nomor 143 Tahun 2019 ini mengaku telah mendengar kondisi terkini pedagang UMKM di Rasuna Garden yang terancam tergusur dari lokasi berjualan. Dalam kapasitasnya sebagai anggota DRD DKI Jakarta yang tugasnya memberikan masukan kepada Pemprov DKI, Faransyah telah berkomunikasi dengan Dinas PPKUKM.

“Saya telah memberikan usulan agar Pemprov DKI melalui Dinas PPKUKM, memediasi pihak Kinanti dan Madara duduk bersama agar mendapatkan solusi. Mengingat ini bukan sekadar persoalan B2B, tapi juga berimbas kepada para pedagang yang harus dilindungi oleh Pemprov. Apalagi Pemprov DKI memiliki kewenangan membuat regulasi dan juga penganggaran untuk membantu UMKM sesuai dengan Peraturan Gubernur Nomor 2 Tahun 2020 Tentang Penyelenggaraan Pengembangan Kewirausahaan Terpadu,” ujar Faransyah, Senin (7/12/2020).

Apabila proses mediasi tersebut gagal, Faransyah berharap, semua pihak kembali duduk bersama untuk menyelesaikan dengan baik.” Namun bisa saja diambil langkah-langkah spesifik yang dapat saya usulkan, misalnya Dinas PPKUKM berkoordinasi dengan Biro Hukum DKI Jakarta ikut mengkaji perjanjian Kinanti dengan Madara, dalam kerangka melindungi para pedagang,” ucapnya.

Langkah spesifik lagi, Faransyah mengusulkan, Dinas PPKUKM, dan BUMD DKI Jakarta bernegoisasi dengan pihak Madara, guna mengambil alih pengelolaan lahan tersebut agar pedagang UMKM tetap berjualan. “Seperti Thamrin 10 misalnya, yang berada di bawah naungan PD Pasar Jaya,” urainya.

Untuk mengarah ke sana, Faransyah menyatakan, hal tersebut sepenuhnya menjadi kewenangan Pemprov DKI Jakarta, melalui Dinas PPUKM dan BUMD yang akan membina pedagang.

“Dalam kapasitas sebagai anggota DRD, saya hanya dapat mengusulkan rekomendasi-rekomendasi yang tentunya harus efisien dari sisi anggaran. Mengingat lahan tersebut milik Madara, jadi bagaimana negosiasinya menjadi wewenang Dinas PPKUM dan BUMD sepenuhnya,”pungkas Faransyah.

Saat PT Kinanti menyediakan fasilitas bagi program OK OCE, dengan menjadikan Gedung Kinanti Building sebagai OK OCE Global Office, Faransyah ketika itu sebagai Ketua Perkumpulan Gerakan OK OCE (PGO OK OCE). Untuk mendukung program, OK OCE Global Office memiliki fasilitas ruang rapat, virtual office, co-working space, pelatihan wirausaha, dan seminar.

Selain itu, di halaman belakang gedung OK OCE Global Office dibuat Food Court OK OCE —yang sekarang ini bernama Rasuna Garden— dengan merangkul para pedagang UMKM. OK OCE Global Office yang pembangunannya murni didanai oleh swasta, diresmikan oleh Mantan Wakil Gubernur, Sandiaga Uno pada 14 Februari 2018.

Sumber Berita : Sindonews